Ngopi

Subuh-subuh para bapak-bapak sudah duduk di kedai kopi

Iklan

Ngopi

Ngopi. Saya punya ceritanya juga tapi tidak sebagus yang lain. Tak lebih ini adalah pengalaman yang pernah saya alami dan lihat waktu kecil.

Di kampung saya, subuh-subuh para bapak-bapak sudah duduk di kedai kopi (Lopou) nyeruput kopi ama goreng pisang batu (Kepok) berteman daun onow (Daun Aren) sebagai rokok berisi Tembakau Guntuang (Tembakau desa Guntung di Payakumbuh). Kedai kopi bangunan bambu atau kayu…nuansa kampung kental banget…harum nikmat… Itu zaman saya kecil dulu yang tetap teringat.

Lalu, disamping setiap rumah orang menjemur kopi yang masih ada kulitnya dan bijinya saja. Mereka menjualnya setiap hari pasar yaitu Senin, Kamis dan Sabtu di kampung, Minggu di kotanya (Payakumbuh)

Tahun ’80-an, kopi adalah bisnisnya orang di kampung saya. Ada yang diekspor, diolah sendiri dan menjual langsung di tokonya seperti Kopi Serbuk Sari di Dangung-Dangung.

Aktifitas ngopi terlihat di mana-mana. Di warung, hotel, mal, cafe yang hampir setiap daerah ada. Di cafe tentu harganya lumayan. Bagi “pengopi sejati” ini tak masalah. Rasa, suasana dan sensasi yang dicari. Bukan sekadar menghabiskan waktu buat mejeng atau mungkin main hp dan laptop ngebalas status sosmednya. Syukur-syukur ilhamnya berlama-lama disitu nulis tentang “kopi.”

“Tester kopi” konon dibayar mahal demi cita rasa dari brand/merek perusahaan kopi. Begitupun promosinya seperti pameran dan perlengkapannya. Tak segan-segan jutaan rupiah keluar.

Joni Delaroza di Pameran kopidi JCC
Stan Kopi di Pameran-JCC

Saya mulai ngopi sejak tamat SMA. Tak lama sehabis itu saya pernah menetap di daerah yang sehari-harinya orang disana duduk ngopi di kedai kopi dengan kopinya yang kental dan keras yaitu di Kepulauan Riau, tepatnya di Tanjungpinang. Sama kondisinya di Batam dan Tanjungbalai Karimun. Tiga kali sehari ngopi adalah wajib.

Ada satu hal  yang jadi kurang sreg lagi buat saya saat ini. Dulu, tahun ’90-an,  naik pesawat masih bisa pilih seat jendela dan merokok. Saya sering naik Sempati Air. Kopi Nescafe nya disajikan bersama kue dan buah atau nasi goreng. Saat itu pelayanan di penerbangan itu cukup enak, kopi aja bisa nambah 2-3 kali. Kita ngerokok sambil ngopi, orang sebelah tidak terganggu. Ada exhaus di seat masing-masing. Nikmat banget sambil melihat pemandangan di jendela pesawat.

Saat ini bila ngopi di bandara, hanya boleh di lounge saja dan bebas rokok. Asem dah mulut 😀

Begitupun kopi sering dijadikan oleh-oleh bila ke Lampung, Aceh, Medan, Tanjungpinang dan daerah lainnya yang dijuluki kopinya.

Kopi memang unik dan sering jadi bahasan. Bisa jadi sesuatu yang berharga misal oleh penulis dan pecinta kopi. Hanya melihat tempat ngopi saja orang bisa mampir dan ketagihan. Banyak contoh. Bila ke Pantura atau berjalan jauh dan sampai tengah malam, paling enak sambil nyetir dan ngopi di jalan.

1001 cerita. Waktu menunggu penerbangan yang ternyata besok harinya karena kesalahan beli, saya menunggu malam di cafe lantai 2 Bandara Samratulangi, Manado tahun 2012 lalu. Saya minum Kopi bernama “Kawangkoan.” 

Jalan-jalan ke Ciwalk bersama keluarga, mereka pada asyik main dan belanja, saya asyik ngopi di Warung Modern di pelataran Ciwalk ini. Lalu dan lalu, lihat aja di foto 😀

Ngopi di Ciwalk
Ngopi di Ciwalk Bandung
13708181_1339004789461395_8243196932008127527_o
Ngopi di Benoa

Save

Save

Save

Save

Joni Delaroza
Kopi Nusantara TMII

Selamat menikmati kopi.

 

 

Penulis: Foto Jalan-Jalan

Suka foto, jalan-jalan, menulis, musik dan menggambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.