Jalan-Jalan

Jalan-jalan (kami sebut “pekansi”)

Iklan

Jalan-Jalan

Jalan-Jalan sangat berkesan saat kecil dulu dan sampai kini masih teringat suasana dan kronologinya. Kai ini jalan-jalan ke Bandung.

Betapa senangnya hati saya dan adik-adik. Saat itu pertengahan tahun atau liburan sekolah…

Hari ini punya baju baru, sepatu baru, besok pagi naik pesawat jalan-jalan (kami sebut “pekansi”) ke Jawa (istilah ke Jakarta atau Bandung)

Subuh, habis sahur tahun ’76 di rumah saya Jl. Utama-Meranti Pandak-Rumbai “tempat kelahiran Sandiaga Uno,” uni (kakak perempuan) dan amak atau ibu (saya panggil Amak dan Papa) sibuk mengurus koper besar kotak-kotak. Papa sibuk pula mengurus mobilnya bersama tetangga kami “Pak Jangguk” yang akan mengantar kami ke pelabuhan (bandara). Tak lama kami berangkat dan dalam suasana masih gelap, beberapa tetangga melepas kepergian kami.

Dengan lagu “Dancing Queen” dari tape mobil saya terhibur sekali dan tak terasa kami sampai di bandara, hari sudah mulai terang. Kami langsung check-in, ditimbang di timbangan barang. Selesai itu Pak Jangguk pulang dengan mobil kami dan kami masuk ruang tunggu.

Saat boarding kami berjalan kaki menuju pesawat. Masih di tangga pesawat sudah terasa AC pesawat Mandala Airlines dengan aroma parfumnya yang khas.

Sebelum take off, Pelayan (Pramugari) membagikan permen “Trebors” kepada penumpang untuk obat agar telinga tidak bengung. Setelah di udara dan posisi pesawat rata, pelayan membagikan nasi kotak, kue dan minuman. Masakannya jaman dulu, penerbangan sangat peduli dengan daerah dimana bila naik dari Padang misalnya, masakannya Rendang Kali ini dari Pekanbaru masakannya nasi goreng, kerupuk udang, minumannya kopi, oren jus, kuenya lemper, bolu dan buahnya apel dengan jeruk. Tak lupa selembar/sachet tisu basah Colognette. Penuh satu meja lipat pesawat. Karena banyak yang puasa, akhirnya kami yang anak-anak saja yang makan. Kira-kira seperti gambar di Batik Air ini.

DELA (46)
Makanan di pesawat

Sambil duduk di jok oren yang empuk, sepanjang perjalanan saya terhibur melihat pemandangan daratan, gunung (Gunung Kerinci dan Gunung Dempo-Pagar Alam), Selat Sunda serta awan bergumpal dari jendela oval pesawat yang lebar. Saya sempat duduk di balkon bagian ekor pesawat. Disitu ada meja bundar dan kaca dekat lantai sehingga leluasa melihat ke daratan. Kalau tak salah jenis pesawatnya Vicker Viscount apa Hawker Siddelley yang terbangnya tidak terlalu tinggi.

Sekitar 2 jam lebih di udara, kami mendarat di Bandara Kemayoran. Om kembaran amak saya telah menunggu. Beliau bekerja di Kemayoran pada PT. INA, kontraktor Cleaning Service pesawat. Beliaulah yang membantu barang bawaan kami sebagian. 

Wow…Kemayoran banyak pesawat luar negeri. Saya melihat pesawat Aeroflot, PanAm, JAL dan banyak lagi. Pesawat domestiknya Bayu Air, Bali Air, Bouraq, Merpati, Seulawah dan lainnya. Saat ini…sangat menyedihkan. Sudah jadi arena pameran dan kantor. Tahun ’98 pas kerusuhan dulu, saya berkantor disini di lantai 2. Seakan ada kaitan dimana zaman dulu saya kesini dan kesini lagi setelah dewasa. Saya sering melewati 2 pesawat tua, SPBU, terminal dan sekeliling Kemayoran.

Joni Delaroza di Kemayoran
JITC Kemayoran
Kemayoran kini
Bekas apron pesawat dan gedung terminal Kemayoran

Jakarta saat itu saya lihat seperti di film jadul. Orang-orang bergaya celana cutbray, kaca mata hitam dan topi lebar. Turis berseliweran.

SPBU Kemayoran kini
SPBU Kemayoran kini

Setelah mengambil bagasi, porter dan om memasukkan barang ke Taksi Presiden. Taksinya sedan Fiat 1000 model lama. Buka pintunya ke depan dan agak kecil. Kami menuju Hotel Redion di Jl. Kran Raya, tak jauh di seberang bandara. Sebelumnya, taksi isi bensin dulu di SPBU seperti foto diatas.

Hotel Redion saat itu berkelas melati tapi cukup bagus. Saat itu yang saya ingat, di lobinya ada mini store, butik yang ada menjual sepatu model “o” tumitnya yang dipajang di etalase. Lalu juga ada restorannya yang dijadikan tempat breakfast. Selain itu juga ada salon seingat saya. Hotel ini pernah berganti nama jadi Hotel Diaz sekitar tahun ’90-an. Sekarang sudah sangat menyedihkan kondisi hotel itu seperti di gambar ini.

Hotel Redion Kini
Hotel Redion
Hotel Redion kini

Dua hari kami jalan-jalan di Jakarta dengan taksi. Diantaranya Taksi Bluebird ke Taman Mini, Taman Ria Monas, Sarinah Plaza dan Jakarta Fair sambil papa, amak dan uni buka puasa disana.

Di Taman Ria, naik kereta api mini warnanya biru, beli kerak telor, gulali dan kacang bogor. Dekat dari situ ada air mancur menari di Monas. Kami ke Sarinah naik taksi dan parkirnya di puncak gedung. Indah sekali pemandangan kota Jakarta dari atas.

IMG_20170918_160803_715
Toko aksesoris

Di Sarinah kami beli oleh-oleh Dodol Picnic, abon cap “Ratu,” kerupuk udang dan amak saya beli tas sandang kulit, kami anak-anak beli kalung dari biji buah-buahan. Papa tak mau kalah, beliau beli parfum merek Tabac.

Hari ke-3 kami di rumah famili buka puasa bersama di Pulo Asem dekat Rawamangun. Dari situ ke Cililitan lewat Senen, Monas dan Semanggi. Semanggi saya bilang jalan angka 8 😀

Perjalanan asyik. Naik taksi buka kaca jendela liak-liuk liat Tugu dan gedung tinggi, culun aja gak ada yang ngetawain. Dari Cililitan kami ke Hotel Nirwana di Kampung Melayu.

Waktu itu Terminal Kampung Melayu yang dekat dari hotel, banyak oplet dan bus 3/4 berhenti mengisi penumpang. Bahkan becak dan delman juga ada saya lihat. Dan bila dari lantai atas hotel, Monas kelihatan. Di malam hari, banyak sekali para penjual makanan seperti baso, soto, kerak telor, kacang rebus dan kerupuk di depan hotel yang menawarkan dari jauh. Mereka tidak diperkenankan masuk kecuali diantar dengan memesan lewat petugas hotel. Selain itu, saat itu juga banyak turis. Kami sempat juga berfoto.

Papa beli mobil Fiat 1000 di kawasan Jatinegara. Dengan mobil itu kami ke Bandung lewat Jl. Raya Bogor dan di Tajur-Bogor kami mampir lagi di rumah famili. Selanjutnya terus ke Puncak. Berfoto di kebun teh, minum es alpukat di RM. Simpang Raya, kebetulan saya tidak puasa.

Joni Delaroza berfoto di Puncak
Mega Mendung Puncak

Di jalan Nanggeleng Cirahayu (Jl. Raya Cianjur-Ciranjang) amak beli pisang, tauco “Cap Meong” yang kala itu terkenal dari pedagang asongan, sedangkan saya dengan adik makan bakso, minum es dawet ayu serta cendol. Jalan ini dulu sama seperti jalan dari Yogya ke Solo yang banyak pohon besar.

Joni Delaroza di Cianjur
Beli pisang di Cianjur 1976
Jembatan Ciranjang kini
Jembatan Ciranjang yang tinggi.

Terus lagi dan foto lagi. Di jembatan Ciranjang dan terakhir di di Ciburuy dengan danau yang bersih airnya dan di depannya bukit kapur, pabrik Tjiwi Kimia dan mobil truk Toyota buaya berjejer membawa batu.

Sudah malam sekitar jam 7, kami baru sampai di Bandung. Kami menginap di Komplek AURI Sikumbang-Husein Sastranegara, rumah paman saya pas 2 hari sebelum Lebaran.

Disinilah saya pertama kali melihat filem “Mickey Mouse” yang bersih. Beda dengan TV saya di Pekanbaru. Juga acara “Manasuka Siaran Niaga” dari TV paman.

Foto Jalan-Jalan
TV Hitam Putih

Kami Shalat Ied dan berlebaran di Bandung. Di Masjid Komplek Sikumbang. Di komplek yang dekat lapangan golf dan bandara ini, saya main-main ke LAPIP atau Nurtanio dan ke famili di Jl. Kresna, seberang Bandara Husen.

Kemudian ke Kolam Renang Karang Setra, Kebun Binatang dan Alun-Alun. Saat itu es krim Walls sedang tren, kami beli dari pedagang yang ada hampir Setiap sudut Alun-Alun.

Hampir seminggu kami di Bandung. Kami kembali ke Jakarta dan menginap di Hotel Nirwana lagi. Sambil jalan-jalan lagi di Jakarta, kami membeli tiket pesawat di Travel Pasopati, Jl.Hayam Wuruk, dekat Olimo-Mangga Besar. Saya ingat, waktu itu tiket pesawat hanya 35 ribuan Pekanbaru-Jakarta. Di tiket berwarna oren dan tebal ada stiker buat isi nama penumpang. Saya isi semua dan saya tempel di koper.

Mobil kami ditinggal di Jakarta dan kami terbang ke Pekanbaru naik Garuda. Lebih cepat kali ini dibanding waktu pergi.

DC-9 Garuda Indonesian Airways dengan suara gemuruhnya mendarat mulus di bandara Simpangtiga-Pekanbaru. Adik perempuan saya nangis menanyakan “om” nya yang sewaktu akan berangkat menggendongnya sampai kedalam pesawat. Selama penerbangan dia ketiduran dan dibilangnya om masih ada.

Bandara Simpang Tiga
Bandara Simpang Tiga atau SSK

Pak Jangguk sudah menunggu. Kami naik mobil dan makan soto dulu diluar bandara yaitu di Marpoyan dan baru pulang ke rumah.

Seminggu setelah itu papa kembali ke Jakarta mengambil mobil dan mengedarainya ke Pekanbaru.

Itulah kisah saya waktu kecil Jalan-Jalan.

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Penulis: Foto Jalan-Jalan

Suka foto, jalan-jalan, menulis, musik dan menggambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.